Penanggalan Tradisional Suku Nias Dalam Prespektif Ilmu Astronomi Di Desa Bawodobara

Abstract Views: 100   PDF Downloads: 98

Authors

  • Retno Gowasa Pendidikan Sejarah Universitas Islam Sumatera Utara
  • Hadiani Fitri Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Islam Sumatera Utara, Indonesia
  • Pulung Sumantri Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Islam Sumatera Utara, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.56211/buana.v2i1.999

Keywords:

Penanggalan Tradisional, Suku Nias, Fase Bulan, Astronomi, Etnoastronomi, Kearifan Lokal

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sistem penanggalan tradisional yang digunakan oleh masyarakat Suku Nias di Desa Bawodobara, serta menganalisisnya dari sudut pandang ilmu astronomi. Penanggalan tradisional ini diwariskan secara turun-temurun dan digunakan sebagai panduan dalam menentukan waktu bercocok tanam, melaut, serta pelaksanaan upacara adat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode etnografi, melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem penanggalan masyarakat Nias berbasis pada pengamatan siklus bulan (fase-fase bulan), seperti bulan sabit, bulan penuh, dan bulan mati, yang sangat selaras dengan konsep kalender lunar dalam astronomi. Tokoh adat berperan penting sebagai penjaga waktu tradisional yang memahami tanda-tanda alam secara empiris. Dari perspektif etnoastronomi, praktik ini membuktikan bahwa pengetahuan lokal memiliki dasar observasi yang logis dan dapat dijelaskan secara ilmiah. Temuan ini juga mengungkap bahwa waktu dalam kebudayaan Nias tidak hanya bernilai praktis, tetapi juga sakral dan bermakna sosial. Meskipun mulai tergeser oleh modernisasi, sistem ini tetap menjadi bagian penting dalam identitas budaya masyarakat. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian kearifan lokal melalui integrasi ilmu pengetahuan modern untuk menjaga warisan budaya yang berakar pada hubungan harmonis antara manusia dan alam semesta.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Aveni, A. F. (2003). Archaeoastronomy in the New World: American Primitive Astronomy. Cambridge University Press.

Durkheim, E. (1912). The Elementary Forms of Religious Life. (Translated by K. E. Fields, 1995). Free Press.

Gulo, Y. (2018). Waktu dan ritus dalam adat pernikahan masyarakat Nias: Kajian etnografi. Jurnal Kebudayaan Indonesia, 14(2), 87–102.

Koentjaraningrat. (1984). Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Gramedia.

Purwanto, A. (2013). Pengetahuan lokal: Warisan budaya dan sains yang terlupakan. Jurnal Antropologi Indonesia, 34(1), 45–58.

Ridwan, M. (2017). Etnoastronomi masyarakat Sumba dalam perspektif ilmiah. Jurnal Sains dan Budaya, 6(2), 77–90.

Ruggles, C. L. N. (2015). Handbook of Archaeoastronomy and Ethnoastronomy. Springer.

Suyanto, B. (2020). Ilmu sosial dan integrasi kearifan lokal dalam pembangunan berkelanjutan. Jurnal Sosiologi Reflektif, 14(1), 1–15.

Wibisono, R. (2015). Kalender tradisional masyarakat Baduy dan keterkaitannya dengan astronomi. Jurnal Astronomi dan Kebudayaan Nusantara, 3(1), 34–49.

Zebua, F. (2005). Budaya Nias: Struktur Sosial dan Sistem Kepercayaan Tradisional. Pustaka Nias.

LIPI. (2010). Pengetahuan Tradisional Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Hidayat, T. (2006). Astronomi dan Budaya: Perkembangan dan Pengaruhnya di Indonesia. Penerbit ITB.

Lestari, D. (2019). Transformasi penanggalan tradisional di tengah modernisasi: Studi kasus komunitas adat di Sumatera. Jurnal Budaya Nusantara, 5(2), 112–124.

Pranowo, S. (2016). Fase-fase bulan dan implikasinya terhadap sistem pertanian tradisional. Jurnal Geografi dan Kebudayaan, 11(3), 59–68.

Sitorus, T. (2021). Waktu dan Perubahan Musim dalam Kosmologi Masyarakat Adat Indonesia. Yayasan Pustaka Adat.

Downloads

Article History

Submitted: 2025-06-24
Published: 2025-06-24
Pages: 9-14

PlumX Metrics

How to Cite

Gowasa, R., Fitri, H., & Sumantri, P. . (2025). Penanggalan Tradisional Suku Nias Dalam Prespektif Ilmu Astronomi Di Desa Bawodobara. Buana Jurnal Geografi, Ekologi Dan Kebencanaan, 2(1), 9–14. https://doi.org/10.56211/buana.v2i1.999