Analisis Pengaruh Komposisi Perekat Porang terhadap Kadar Air dan Ketahanan Mekanik Briket Biomassa Arang Kayu

Abstract Views: 11   PDF Downloads: 6

Authors

  • Harmoko Harmoko Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama Pekalongan
  • Risal Ngizudin Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama Pekalongan
  • Ahmudi Ahmudi Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama Pekalongan
  • Nur Muhammad Rosyid Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama Pekalongan
  • Sheilla Amtilyani Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama Pekalongan

DOI:

https://doi.org/10.56211/blendsains.v5i1.1842

Keywords:

Arang kayu; Briket; Kadar Air; Ketahanan Mekanik; Perekat Porang

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi tanaman porang (Amorphophallus muelleri) sebagai bahan perekat ramah lingkungan dalam produksi briket biomassa, khususnya pengaruh komposisi perekat dan pengeringan terhadap kadar air serta ketahanan mekanik briket. Briket biomassa merupakan sumber energi terbarukan yang penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, namun penggunaan perekat sintetis dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan sehingga perekat alami seperti glukomanan porang perlu dieksplorasi. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan mengombinasikan arang kayu dan tepung porang pada tiga komposisi (70:30, 80:20, dan 90:10) yang dikeringkan pada suhu 120 °C selama 2 jam, dengan 12 sampel pada setiap komposisi. Pengujian meliputi selisih berat (susut pengeringan), kadar air, dan ketahanan mekanik melalui uji jatuh (drop test) dari ketinggian 1 meter. Hasil penelitian menunjukkan susut pengeringan terbesar terjadi pada komposisi 90:10 sebesar 41,1% (selisih 2,5 gram), kadar air terendah diperoleh pada komposisi 70:30 dengan rata-rata 12,21%, sedangkan kadar air tertinggi pada komposisi 90:10 sebesar 41,02%. Uji jatuh menunjukkan penyusutan berat terkecil pada komposisi 70:30 sebesar 0,1 gram (3%). Komposisi 70:30 memberikan mutu terbaik dari sisi kadar air dan ketahanan mekanik sehingga tepung porang berpotensi menjadi perekat alternatif ramah lingkungan untuk briket biomassa, meskipun kadar airnya masih perlu diturunkan agar memenuhi SNI 01-6235-2000 (maksimal 8%).

Downloads

Download data is not yet available.

References

[1] N. Iskandar, S. Nugroho, dan M. F. Feliyana, “Uji kualitas produk briket arang tempurung kelapa berdasarkan standar mutu SNI,” J. Ilmiah Momentum, vol. 15, no. 2, hlm. 103–108, 2019, doi: 10.36499/jim.v15i2.3073.

[2] Iswara dkk., “Studi literatur karakteristik briket dengan variasi bahan baku dan perekat,” Distilat: J. Teknologi Separasi, vol. 10, no. 1, 2024.

[3] C. Indrawati, B. A. Harsojuwono, dan A. Hartiati, “Karakteristik komposit bioplastik glukomanan dan maizena dalam pengaruh variasi suhu dan waktu gelatinisasi,” J. Rekayasa dan Manajemen Agroindustri, vol. 7, no. 3, hlm. 468, 2019.

[4] A. R. Septiawan, G. C. E. Darma, dan R. Aryani, “Pembuatan dan karakterisasi glukomanan dari umbi porang (Amorphophallus muelleri Blume.) sebagai bahan pengikat tablet,” Prosiding Farmasi, vol. 7, no. 2, hlm. 508–515, 2021.

[5] I. M. A. Cholilie dkk., “Pengaruh variasi jenis perekat terhadap kualitas biobriket berbahan serabut dan tandan buah lontar (Borassus flabellifer L.),” Agro Bali: Agricultural Journal, vol. 4, no. 3, 2021.

[6] B. L. Jannah, D. Pangga, dan S. Ahzan, “Pengaruh jenis dan persentase bahan perekat biobriket berbahan dasar kulit durian terhadap nilai kalor dan laju pembakaran,” Lensa: J. Kependidikan Fisika, vol. 10, no. 1, hlm. 16, 2022.

[7] R. Khusaini dan J. Rahman, “Pengaruh kerapatan briket campuran tempurung kelapa dan bonggol jagung terhadap kinerja kompor biomassa,” J. Teknik Mesin Indonesia, vol. 19, no. 1, hlm. 107–111, 2024.

[8] Rindayatno dan D. O. Lewar, “Kualitas briket arang berdasarkan komposisi campuran arang kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) dan kayu sengon (Paraserianthes falcataria),” ULIN: J. Hutan Tropis, vol. 1, no. 1, 2017, doi: 10.32522/ujht.v1i1.792.

[9] A. Demirbas, “Relationships between lignin contents and fixed-carbon contents of biomass samples,” Energy Conversion and Management, vol. 44, no. 9, hlm. 1481–1486, 2003.

[10] F. Cherubini, G. P. Peters, T. Berntsen, A. H. Strømman, dan E. Hertwich, “Emissions from biomass combustion for bioenergy: atmospheric decay and contribution to global warming,” GCB Bioenergy, vol. 8, no. 2, hlm. 352–362, 2016.

[11] S. Irawan, S. F. Dharmawan, dan M. Ilmi, “Biomass briquette as an alternative reductant to low-grade iron ore,” Procedia Engineering, vol. 170, hlm. 292–297, 2017.

[12] I. Mahadi dan Y. U. Panggabean, “Pengaruh konsentrasi campuran perekat kanji dan sagu terhadap mutu briket limbah kulit kolang-kaling (Arenga pinnata Merr.),” 2023.

[13] H. Anizar, E. Sribudiani, dan S. Somadona, “Pengaruh bahan perekat tapioka dan sagu terhadap kualitas briket arang kulit buah nipah,” Perennial, vol. 16, no. 1, hlm. 11–17, 2020.

[14] E. W. Kurniawan, M. Rahman, dan R. K. Pemuda, “Studi karakteristik briket tempurung kelapa dengan berbagai jenis perekat briket,” Buletin LOUPE, vol. 15, no. 1, hlm. 31–37, 2019.

[15] A. Ningsih dan I. Hajar, “Analisis kualitas briket arang tempurung kelapa dengan bahan perekat tepung kanji dan tepung sagu sebagai bahan bakar alternatif,” Jurnal Teknologi Terpadu (JTT), vol. 7, no. 2, hlm. 101–110, 2019, doi: 10.32487/jtt.v7i2.708.

[16] Norhikmah, N. M. Sari, dan M. F. Mahdie, “Pengaruh persentase perekat tapioka terhadap karakteristik briket arang tempurung kelapa,” Jurnal Sylva Scienteae, vol. 4, no. 2, hlm. 324, 2021, doi: 10.20527/jss.v4i2.3343.

[17] L. Sulistyaningkarti dan B. Utami, “Pembuatan briket arang dari limbah organik tongkol jagung dengan menggunakan variasi jenis persentase perekat,” Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia, vol. 2, no. 1, hlm. 43, 2017.

[18] A. Zaenul Amin, Pramono, dan Sunyoto, “Pengaruh variasi jumlah perekat tepung tapioka terhadap karakteristik briket arang tempurung kelapa,” Sainteknol, vol. 15, no. 2, hlm. 111–117, 2017.

[19] J. Prasetya, E. Junary, dan N. Herlina, “Pengaruh konsentrasi perekat tepung tapioka dan penambahan kapur dalam pembuatan briket arang berbahan baku pelepah aren (Arenga pinnata),” Jurnal Teknik Kimia USU, vol. 4, no. 2, 2015.

[20] E. Nurhaida, A. Alamsyah, F. A. Azis, dan B. Kristiawan, “Optimization of porang (Amorphophallus oncophyllus) flour processing to produce good quality flour,” IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, hlm. 012028, 2021.

[21] A. Riyanto, E. Yulianingsih, dan M. Kurniasari, “The potential of glucomannan Amorphophallus muelleri flour as a fat replacer in reduced-calorie mayonnaise,” Food Science and Technology, vol. 38, no. 2, hlm. 359–363, 2018.

[22] Wardah dan A. Dutahatmaja, “Peningkatan nilai ekonomi melalui kegiatan penanganan pascapanen porang di Desa Cupak,” Jurnal Pengabdian Nasional, vol. 3, 2023.

[23] Badan Standardisasi Nasional, SNI 01-6235-2000

Downloads

Article History

Submitted: 2026-06-24
Published: 2026-07-30
Pages: 249-259

PlumX Metrics

How to Cite

Harmoko, H., Ngizudin, R., Ahmudi, A., Rosyid, N. M., & Amtilyani, S. (2026). Analisis Pengaruh Komposisi Perekat Porang terhadap Kadar Air dan Ketahanan Mekanik Briket Biomassa Arang Kayu. Blend Sains Jurnal Teknik, 5(1), 249–259. https://doi.org/10.56211/blendsains.v5i1.1842

Issue

Section

Articles